Tuesday, 10 January 2017

Parenting dan Travelling

Banyak sekali yang menanyakan apakah berjalan-jalan dengan membawa anak itu RIBET ? 
Kalau saya jawab tidak berarti saya BOHONG ^_^ karena berjalan-jalan dengan membawa anak itu memang RIBET adanya tidak kurang dan tidak lebih. Hehehehee 
Butuh tenaga dan pikiran ekstra karena akan beda dengan hanya membawa diri sendiri. Membawa anak-anak dalam perjalanan apalagi bayi itu memang sedikit ngeringeri sedap. 
Tapi alhamdulillah sampai saat ini kami melaluinya dengan senang hati malah sebaliknya banyak pelajaran berharga di setiap perjalanan termasuk soal parenting,karena ternyata ilmu ini tidak selalu di dapat dari buku. 

Bagi kami setiap perjalanan merupakan sebuah petualangan dan pelajaran baru bagi kami berlima, itulah mengapa kami menamakan blog ini familytraventure yang traventure itu sendiri singkatan dari travelling dan adventure. Berdasarkan pengalaman pribadi kami ada beberapa perjalan yang bisa dipetik di antaranya adalah 

1. Belajar mempersiapkan segala sesuatu dengan matang 
Saya termasuk orang yang gimana nanti bukan nanti gimana tapi hal ini tidak bisa diterapkan jika melakukan traveling dengan anak-anak. Segala sesuatu harus direncanakan dengan matang dari mulai pergi keluar rumah sampai nanti pulang kembali ke rumah. Kami biasanya menyusun itinerary yang masuk akal bagi anak-anak dan terkadang mereka pun ikut menyusun itinerary akan kemana sajakah kita saat bepergian, dan dengan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang maka penghematan biaya pun dapat dilakukan #yeayyyyyyy (itu sih poin pentingnyah)



2. Melatih kekompakan keluarga 
Ini juga penting saat traveling, harus saling membantu dan bekerjasama, tidak tabu bagi saya sebagai perempuan melakukan pekerjaan laki-laki begitu juga dengan Papapnya 3H yang tidak tabu melakukan pekerjaan perempuan. Misal seperti saya mengangkat koper, papap memandikan anak-anak atau kadang si sulung Haura bertugas memandikan dan menjaga adik-adiknya saat kami sedang sibuk melakukan pekerjaan lain, Angkut mengangkut stroler juga kadang papapnya dibantu Haura dan Hanif, pembagian barang apa yang akan dibawa juga termasuk melatih kekompakan keluarga.



3. Belajar mengendalikan ego sebagai orang dewasa
Namanya traveling pasti ingin semua tempat didatangi tapi karena kami bersama anak-anak kami harus mengendalikan ego kami maka kami harus menyesuaikan tempat-tempat yang akan kami datangi dengan jam tidur atau makan anak. Kami tidak memaksakan diri jika anak-anak sudah lelah maka kami akan beristirahat atau bahkan membatalkannya. Seperti saat di Jepang kami sudah mempersiapkan tiket bis untuk pergi ke Mt. Fuji dah harus pergi saat jam 6.30 pagi tapi karena malam harinya kami kemalaman sampai tempat penginapan dan kondisi anak-anak yang kelelahan maka kami membatalkan pergi ke Mt. Fuji dan menggantinya dengan rute lain.

4. Melatih kemandirian 
Kemandirian kami sebagai orang tua dan kemandirian anak-anak tentunya. Kami bepergian tanpa membawa pengasuh atau sodara jadi memang kami harus mandiri atas segala sesuatunya. Anak-anak pun pelan-pelan belajar bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, mandi sendiri membawa ransel dan barangnya sendiri, makan sendiri tidak disuapi, memakai sepatu sendiri,dll. 



5.  Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru 
Adaptasi juga merupakan salah satu hal penting, ketika menemukan lingkungan baru kami diharuskan untuk segera beradaptasi. Hanya ada dua pilihan kan lari atau hadapi, dengan beradaptasi berarti kita beradaptasi dengan hal-hal tersebut. 


6. Belajar kedisiplinan
Jadwal pesawat bahkan kereta di luar sana sangat tepat maka kami harus belajar disiplin, tidak membuang sampah sembarangan, ketika naik eskalator berdiri di sisi kiri, mengantri dengan rapi dll. Sehingga hal positif tentang kedisiplinan itu menjadikan sebuah kebiasaan dan terbawa sampai saat di rumah .



7. Bertemu hal baru baik itu orang dan kebudayaannya
Setiap daerah, kota bahkan negara memiliki kebudayaan yang berbeda, jika ada yang kurang bahkan tidak baik kita menjelaskannya begitu juga kebudayaan yang baik. Seperti saat di Bali dimana Haura selalu bertanya kenapa di setiap toko ada bunga di dalam piring janur, saya bilang itu sesajen kepercayaan dan ibadahnya umat Hindu. Dari situ pun anak-anak belajar menghormati dan menghargai orang lain 

8. Mengasah kemampuan berkomunikasi
Ini sih juga bermanfaat untuk emaknya banget #nyengirlebar karena kemampuan bahasa inggris saya yang jauh di bawah pas-pasan dengan traveling apalagi ke luar negeri lumayan untuk mengasah. Walau kadang harus ditambahkan dengan bahasa tarzan bahkan bahasa kalbu :p hehehehehe
Sekarang Haura / Hanif sudah berani ketika membeli barang berbicara sendiri.


9. Keluar dari comfort zone
Yang biasanya di rumah pakai AC, kemana-mana pakai kendaraan baik itu mobil / motor dan kalaupun naik kendaraan umum bisa berhenti di mana saja. Makanan juga gampang di dapat maka dengan melakukan traveling mandiri alias backpacker kadang harus kuat dengan kondisi yang tidak berAC atau tidur di bandara demi menghemat budget, berjalan kaki yang cukup jauh , naik turun tangga dll. Tega sama anak ? Tidak...
Kami berprinsip untuk mengajarkan life skills karena tidak selamanya kondisi hidup seperti yang kita mau jadi harus bisa bertahan dalam kondisi apapun

10. Berani mengambil pilihan, mengahadapi tantangan dan menghadapi resiko 
Seperti kami yang berani mengambil pilihan untuk membawa ketiga bocah yang luar biasa aktifnya ini, karena ini juga sebuah tantangan. Tantangan mengumpulkan uang (ini penting nih) , tantangan menghadapi polah anak-anak, dan resiko karena setiap perjalanan pasti ada resiko. Tapi dengan persiapan yg matang insyaAllah meminimalisir resiko yg ada.


Soooooo berani?
Kalau masih ina inu ina inu males repot mah mending gak usah,  bobo aja di rumah😁😁😁😁

Jadi kepikiran....
Someday kami ingin bikin tour yg ramah anak dan keluarga  ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ 


3 comments: