Friday, 1 July 2016

Ada Apa dengan RIBA ?

ADA APA DENGAN RIBA ?

Yang Baper jangan dibaca yaaa...
Saran sebelum baca, coba nonton stand up comedy dulu atau senyumsenyum sendiri di kaca, biar energinya positif 😝😝

Ok kita mulai ya ceritanya...

2013 saat itu kami  membaca sebuah 'iklan' tentang seminar pengusaha tanpa riba. Haisssh pasti lebay deh, semua juga riba kelesss,  uang kertas riba juga kan ya itungannya, gmana mau bebas? Sok suci deh ahhh (nih gini nih orang sotoy tapi kepo) 😁 hahaha #toyorkepalasendiri



Tambah penasaran dong....
Apalagi sebagai seorang seminar shopper (kalo kata Pak Endro mah) hahahahha ,baca judulnya menarik banget PENGUSAHA TANPA RIBA.
Sebelumnya saya ikut bbrp seminar bahkan workshop ttg bisnis hampir 80% mengajarkan bagaimana caranya mencari hutang ke bank. Cara ngadalin bank.juga khatam saya mah 😅
Pokonya tips dan triknya saya sampai hapal dong 😂😂 hahahaha bahkan sempet ngajarin temen-temen #jambakjambakrambutsendiri (ini dosa berlapis judulnya) 😭

Lah ini seminar katanya mengajarkan bisnis tanpa hutang ke bank, ahh seriussss lo? Yakinnn?

Tahun itu kami merasa ada di puncak segalanya berbagai macam bisnis telah berdiri dari rumah kontrakan, rmh makan, warung emperan, catering, salon anak,  developer, pabrik batu bata, landscape taman, dll.
Semua dihandle sambil mengasuh 2 anak, karena kami tetap bertekad titipan Allah SWT tidak akan saya titipkan ke orang lain /pengasuh.

Tapi ntah saat itu saya merasa jenuh, ada sesuatu yg mengganjal tapi ntah apa. Yaaa kalau anak ABG mah GEGANA Gelisah Galau Merana 😂

Sampai akhirnya suami memutuskan utk mengikuti seminar tersebut di Bandung sekalian nengok orang tua  dan disanalah ia mengenal Ustad Samsul Arifin.

Saking tidak sabarnya saya selalu menelpon saat ia seminar, menanyakan materinya.
Respon suami? Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah mam, ilmu mamam dari para mentor itu terbantahkan semua. Mam, pokonya kita harus banyak yg dibenahi. Mam, kita harus lepas dari riba.

Huaaaa tambah penasaran dong? Suami begitu excited , dan ketika kembali ke Berau bercerita ttg materi ustad Samsul Arifin yg didapat selama 8 jam. Badan saya lemas, pening, mual dan terjawablah sudah ganjalanganjalan di hati selama ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad 5: 225. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1033).

Dalam hadits yang lain disebutkan,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

Akhirnya kami bertekad tahun depan kami harus bisa mengurangi hutang 75% di Bank !! (mengapa targetnya tidak lunas krn perasaan kami nyamannya begitu utk tahun depan)

Cara simpelnya sehat tidaknya kondisi keuangan kita list aset yg dipunya dan jumlah hutang kalau minus berarti PRnya banyaaaaakkkk bangettt 😂😂
Kesuksesan, kemapanan yg terlihat dan dirasakan sekarang itu berarti hanya semu :-)

Oiya salah satu membebaskan diri dari riba hutang bank adalah menjual aset ! Tantangannya ? SAYANG...
Sayang rumah kalau dijual, sayang mobil kalau dijual, sayang motor kalau dijual, pokonya berat sekali melepas harta yg hanya sementara di dunia ini.

Sampai akhirnya 6 bulan ke depan setelah seminar tersebut kami masih jalan di tempat dong gak melakukan apa-apa dan tetap dengan cicilan ke Bank (atas nama bisnis) yg nominalnya aduhai.

Lalu tiba-tiba suami mengabari  dimutasi pekerjaannya  ke Jakarta, kembali rasanya berat meninggalkan bisnis yg sudah dibangun dengan jerih payah, keringat dan cucuran air mata ini di Berau #lebay.
Belum lagi para karyawan yg harus di phk krn tidak memungkinkan jika terus berjalan jika saya tdk berada di Berau walaupun ada bbrp yg bisa dijalankan dr jarak jauh.

Bismillah kami putuskan utk menjual bisnis dan aset yg ada. Ya kami akan pindah ke Jakarta, prinsip kami bagaimanapun sebuah keluarga harus berkumpul apalagi memang memungkinkan kondisinya.

Alhamdulillah di penghujung 2014 70% semua sudah terjual. Lalu tiba-tiba kami mendapat kabar kalau suami dimutasi kembali ke kantor di Berau #pingsan

Huaaaaa gimanaaaa inih dah dijual hampir semuanyaaaaaa.

Mau marah ya gimana masih jadi kuli juga, tapi kalau kata Haura mah kan semua sudah terjadi atas ijin Allah SWT.

Lalu uang yg sdh terkumpul dari hasil jual-jual digimanain iniii?

"Mam, kalau dihitung-hitung ini bisa buat lunasin hutang di Bank"

Huaaaaaa inikah jawaban dari segala doa-doa kami selama ini ?
Seketika itu saya menangis, ya Allah inikah caraMu , jika menunggu inisiatif kami mungkin tidak akan lunas-lunas ini hutang dan cicilan.
Bayar hutang dan bebas dari cicilan besar itu rasanya ploooong sodara-sodara, seperti ada beban yg terlepas di pundak.

Berkah banyaaaak sekali, bahkan terakhir kami bisa berangkat umroh sekeluarga jika dihitung matematika ala manusia saat itu tidak mungkin tapi ternyata Allah berkehendak lain. Dulu mana berani mikir mau daftar haji atau pergi umroh, sibuk aja mikirin cicilan yg kayanya gak habis-habis :'(

Sekarang kami masih terus bebenah, ini seperti memulai 'KEMBALI KE TITIK NOL'
Bahkan saat ini utk melakukan bisnis kembali kami sangat berhatihati, kami tidak ingin jatuh pada lubang yg sama.

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Lihatlah pula apa kata ‘Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.” (Lihat Mughnil Muhtaj, 6: 310)

Fuihhhhh.... Panjang banget ya ceritanya...

Ini beberapa kiat agar tidak terjerumus ke dalam riba (Rumaysho.com)
🌸Berilmu dulu sebelum membeli ( Semisal seorang pedagang, hendaklah ia paham seputar hukum jual beli. Jika ia tidak memahaminya, bisa jadi ia memakan riba atau menikmati rizki dengan cara yang tidak halal.
🌸Mengetahui bahaya riba (bisa diggogling ini mah yah)
🌸Tidak bermudahmudahan dalam berutang (hayoooo ibuibu yg suka ngutang ke tukang sayur #nyengircantik)
🌸Memiliki sifat qona'ah (Jangan sampai besar pasak drpd tiang deh, gengsi? Bisa kenyang kalau.makan gengsi mah )
🌸Perbanyaklah doa (duh ini mah wajibbbb)

Terakhir Berazam bersama suami/istri utk lepas dari RIBA #bersamakitabisa (berasa jargon kampanye apaaa gitu yah :-P )

Yuks ah belajar bareng 🤗
Maaf jika ada penulisan yg kurang tepat, mohon dikoreksi yaaa...

Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, ketidaksempurnan milik ~bunda dorce~  eh kami semata

Semoga bermanfaat <3

Everything happen for a reason

@juliaw_says
Http://www.familytraventure.com

No comments:

Post a Comment